Red Purple Black
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
banner
banner
banner
banner

Design Week Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta

Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta, kembali mengadakan acara kumpul bareng para arsitek. Ajang yang menjadi sarana sosialisasi profesi Arsitek dan IAI Jakarta sebagai organisasi, namun…

Read more...

Nismara Hotel and Residence

PT Bali Ayu Tulip, yang merupakan anak usaha EAR'S Corp membangun apartemen dan hotel Nismara di Seminyak, Bali. Ground breaking sudah dilaksanakan sebagai tanda dimulainya…

Read more...

Produk Terbaru dari Modernland

PT Modernland Realty Tbk, kembali membangun properti komersial di perumahan Kota Modern, Kota Tangerang, Banten, yaitu Modern Square dan Modern Arcade. Kedua komplek ruko itu…

Read more...

Cluster Central Park @ Karawang Resinda resmi di luncurkan

residenceindonesia.com. Karawang. Berada di kawasan hunian strategis yang berkembang pesat dengan pertumbuhan kawasan industri terbesar di kawasan Asia Tenggara, Karawang Resinda hadir dengan berbagai tipe…

Read more...

At Book Store Now !!!

You are here: Home Properti KPR SYARIAH-Demi Kepastian, Apa Salahnya Take Over

KPR SYARIAH-Demi Kepastian, Apa Salahnya Take Over

Ingin pindah dari bank konvensional, nasabah bisa menempuh dengan take over KPR. Nasabah harus jeli dengan aturan dan syarat yang diminta bank kedua.

Praptani dalam beberapa hari ini perhatiannya sedang tercurah pada cicilan KPR untuk rumahnya tipe 36/120. Bukan karena menunggak pembayaran setiap bulannya, tapi sedang menimbang-nimbang untuk memindahkan cicilan KPR rumahnya ke salah satu bank syariah. Bank yang dipakai saat ini adalah bank konvensional. Karyawati di perusahaan telekomunikasi ini merasa tertarik untuk pindah ke bank syariah karena melihat kepastian nilai cicilannya sampai selesai. Tidak tergantung dari fluktuasi suku bunga yang berlaku di pasar, yang bisa naik dan turun. Kebetulan bank syariah yang diminati sudah membuka kantor cabang dekat dengan rumahnya. Jadi, tidak sulit untuk datang ke bank tersebut.
Dulu, ketika mengambil rumah, ia tidak berpikir untuk memakai bank syariah karena kebetulan pihak pengembang yang mengerjakan rumahnya,  hanya bekerja sama dengan bank-bank konvensional. Apalagi  mereka menawarkan suku bunga satu digit yang sangat terjangkau. Tetapi begitu memasuki tahun kedua suku bunga yang dikenakan langsung melonjak dua digit mencapai 13 persen. Ibu dua anak ini langsung kaget dengan besarnya suku bunga KPR bank tersebut. Kini, setelah dua tahun mencicil di bank konvensional, ia merasa belum terlambat untuk memindahkan KPRnya ke bank syariah.
Pindah KPR atau lazim disebut take over nasabah dari satu bank ke bank lain adalah bagian dari bisnis di dunia perbankan. Take over biasa terjadi antara sesama bank konvensional atau dari bank konvensional ke bank syariah. Bagi beberapa bank program take over KPR dianggap bagian dari strategi untuk menambah dan memperluas nasabahnya. Tidak heran kalau ada bank yang mengeluarkan gimmick-gimmick  khusus take over untuk “merayu” nasabah bank lain agar bersedia memindahkan cicilan KPR-nya. Hal yang wajar di perbankan. Nasabah pun punya hak untuk memindahkan cicilan KPR. Apalagi kalau sebelumnya merasa dikecewakan dengan suku bunga di bank konvensional.

Kukuh Rahardjo, Executive Vice President BNI Syariah; “Keinginan developer untuk bekerja sama dengan bank syariah sangat tinggi,”

Kukuh Rahardjo, Executive Vice President BNI Syariah, pernah bercerita kepada Residence Indonesia,  sekarang banyak nasabah BNI syariah adalah mereka yang beralih dari sebelumnya bank konvensional. Tanpa disadari sebetulnya nasabah “agak dirugikan dan kecewa” karena pada saat di awal cicilan diberi suku bunga yang murah, tetapi begitu memasuki tahun kedua suku bunga langsung melonjak naik.
Tentu kita tidak menampik kalau ada nasabah memutuskan untuk take over dari bank konvensional ke bank syariah, didorong atas keyakinan sebagai seorang pemeluk Islam untuk memakai skema syariah. Walaupun bank syariah bersifat universal yang bisa dimanfaatkan oleh agama apapun. Terlepas dari rasa “emosional” keagaamaan, masyarakat Indonesia sebetulnya mulai peduli untuk memakai KPR bank syariah. Ini bisa dilihat dari makin banyaknya pengembang yang menjalin kerjasama dengan bank syariah. Sebut saja Bank Syariah Mandiri (BSM) atau BNI Syariah yang kini makin didekati pengembang untuk bekerja sama. “Keinginan developer untuk bekerja sama dengan bank syariah sangat tinggi,” ujar Kukuh.

Jeli Memilih Bank

Walaupun bank-bank syariah umumya menawarkan persyaratan dan ketentuan take over yang hampir sama atau mirip. Nasabah tetap harus jeli memilih bank syariah. Apa saja kemudahan yang diberikan, kemungkinan ada denda bila take over dari bank lain dan termasuk jaringan bank yang akan kita pilih. Hal-hal tersebut termasuk yang harus diperhatikan. Untuk BSM sendiri sudah  memiliki program take over yaitu BSM Griya Take Over. Ada beberapa jenis take over yang ditawarkan BSM yaitu Take Over, Take Over Renovasi dan Take Over Jual Beli.

Sebagai daya tarik, selain margin yang lebih pasti dengan angsuran tetap, nasabah juga dapat mengajukan BSM Take Over Griya plus Renovasi. Nasabah pun dibebaskan dari beaya provisi, bebas biaya pinalti compliance syariah, bebas biaya appraisal angsuran tetap sampai akhir jangka waktu. Untuk memudahkan proses take over, BSM kini sedang memperluas  processing center dengan membuka CFBC (Consumer Financing Business Center) dan CFBO (Consumer Financing Business Office) yang dapat mempercepat nasabah dalam  proses pembiayaan.
Bagaimana dengan BNI Syariah yang juga tidak kalah gesit menawarkan take over KPR. Take over di BNI Syariah dilakukan melalui produk pembiayaan Griya iB Hasanah. BNI Syariah memberikan daya tarik yaitu menawarkan margin yang kompetitif, angsuran  tetap sampai lunas, jangka waktu hingga 15 tahun, proses lebih cepat, bebas pinalty dan pastinya sesuai dengan prinsip syariah.
Baik BSM maupun BNI Syariah mensyaratkan minimal telah mencicil selama satu tahun pembiayaan berjalan di bank asal. Perpindahan dilakukan dengan metode take over yang berlaku umum, yaitu sisa pokok pinjaman di bank lama dibeli atau diambil oleh bank kedua. Akad yang digunakan Murabahah (Jual-beli).
Baik BNI Syariah maupun BSM optimis, akan semakin banyak nasabah yang memilih syariah untuk pembiayaan KPR. BNI Syariah, misalnya, target ekspansi pembiayaan Griya iB Hasanah sampai dengan tahun 2012 adalah sebesar Rp3 triliun. Sementara skim take over adalah bagian dari strategi BNI Syariah untuk mencapai  target pembiayaan sampai akhir tahun. Pembiayaan BNI Syariah di semester I/2012 meningkat 31 persen atau sebesar Rp 5,866 triliun dari sebelumnya Rp 4,493 triliun hingga Desember 2011. Sampai dengan Juni 2012 ini , nasabah yang take over sekitar 430 nasabah.
Sedangkan di BSM sampai dengan Juni 2012 pencairan PPR Take Over lebih dari Rp45 miliar. Menurut Hanawijaya, Direktur Bank Syariah Mandiri, Ditargetkan sampai dengan akhir tahun 2012 dana yang disalurkan untuk KPR mencapai Rp3,6 triliun. Sampai bulan Mei 2012 saja sudah mencapai Rp2,9 triliun dana yang disalurkan untuk KPR. “Target pertumbuhan di tahun 2012 ini sekitar Rp1,6 triliun dibandingkan tahun 2011,” ujar Hanawijaya.

Data Pengunjung

Today1
Yesterday63
Week388
Month1917
All50071

Currently is one guest online

Advertisement

Pemesanan Iklan Hub: 021-32003386/021-79188522

See Us At

Residence Indonesia Magazine

Find Us At

@ jalan Siaga 2 No 1 Unit A
Pejaten Barat-Pasar Minggu

Call Us At

  • Telp/Fax: 021-79188522

Or Touch Us At

  • redaksi@residenceindonesia.com